Kematian Adolf Hitler
OPINI | 21 March 2010 | 17:16
Dibaca: 2750
Komentar: 5
1 dari 1 Kompasianer menilai Bermanfaat
Diktator Jerman, Adolf Hitler diyakini tewas
bunuh diri di sebuah bunker di Berlin pada 30 April 1945. Namun, fakta
itu kini dipertanyakan.
Seperti dikutip dari laman Daily Telegraph, Senin 28 September 2009, Program History Channel Documentary Amerika Serikat menyatakan tengkorak milik Hitler yang disimpan Rusia bukan milik pemimpin NAZI tersebut.
Itu adalah tengkorak perempuan berusia di bawah 40 tahun, bukan Hitler yang dinyatakan meninggal di usia 56 tahun.
Penemuan ini, menguatkan kembali teori konspirasi bahwa Hitler tidak mati pada 1945. Dia diduga melarikan diri dan mati di usia tua.
Sejumlah teori beredar soal dimana kematian Hitler. Ada yang mengatakan Hitler meninggal di Argentina, Brazil, Amerika Selatan, bahkan Indonesia.
Seperti dikutip dari laman Daily Telegraph, Senin 28 September 2009, Program History Channel Documentary Amerika Serikat menyatakan tengkorak milik Hitler yang disimpan Rusia bukan milik pemimpin NAZI tersebut.
Itu adalah tengkorak perempuan berusia di bawah 40 tahun, bukan Hitler yang dinyatakan meninggal di usia 56 tahun.
Penemuan ini, menguatkan kembali teori konspirasi bahwa Hitler tidak mati pada 1945. Dia diduga melarikan diri dan mati di usia tua.
Sejumlah teori beredar soal dimana kematian Hitler. Ada yang mengatakan Hitler meninggal di Argentina, Brazil, Amerika Selatan, bahkan Indonesia.
Jurnalis Argentina sekaligus pengarang buku ‘Bariloche Nazi’, Abel Basti meyakini Hitler tewas di Argentina pada 1960.
Basti mengklaim Hitler melarikan diri dari
Jerman menggunakan kapal selam. Bersama belahan jiwanya, Eva Braun,
Hitler diyakini menghabiskan hari-hari terakhirnya di sebuah kota
bernama Bariloche. Basti mendasarkan klaimnya atas keterangan beberapa
saksi.
Kemudian, seperti dikutip laman
Salisburypost, 30 Agustus 1999, artikel surat kabar pada 17 Juli 1945,
memberitakan Hitler dan Eva braun terlihat di Argentina.
Seorang wartawan mengirim cerita dari
Montevideo ke Chicago Times — Hitler dan Braun melarikan diri ke
Argentina dengan kapal selam. Keduanya hidup di kompleks orang-orang
Jerman di Patagonia.
Sementara, klaim bahwa Hitler meninggal di Brazil didasarkan pengakuan anggota NAZI bahwa Hitler meninggal pada 1980 di Brazil.
Brazil diketahui sebagai tempat pelarian
para mantan pengikut Hitler. Sebuah makam NAZI bahkan ditemukan di
pedalaman Hutan Amazon, lengkap dengan lambang NAZI di nisan yang
berbentuk salib.
Makam NAZI di pedalaman Amazon
***
Sebuah artikel mengejutkan telah lama beredar di sejumlah mailing list dan laman jejaring sosial. Artikel itu berisi versi lain cerita kematian diktator Jerman, Adolf Hitler. Dikatakan Hitler meninggal di Indonesia.
Sebuah artikel mengejutkan telah lama beredar di sejumlah mailing list dan laman jejaring sosial. Artikel itu berisi versi lain cerita kematian diktator Jerman, Adolf Hitler. Dikatakan Hitler meninggal di Indonesia.
Cerita ini berawal dari sebuat artikel di
Harian Pikiran Rakyat pada tahun 1983. Penulisnya bernama dr Sosrohusodo
— dokter lulusan Universitas Indonesia yang pernah bertugas di kapal
yang dijadikan rumah sakit bernama ‘Hope’ di Sumbawa Besar.
Dia menceritakan pengalamannya bertemu
dengan dokter tua asal Jerman bernama Poch di Pulau Sumbawa Besar tahun
1960. Poch adalah pimpinan sebuah rumah sakit terbesar di pulau
tersebut.
Klaim yang diajukan dr Sosrohusodo jadi
polemik. Dia mengatakan dokter tua asal Jerman yang dia temui dan ajak
bicara adalah Hitler di masa tuanya
Bukti-bukti yang diajukan Sosrohusodo,
adalah bahwa dokter tersebut tak bisa berjalan normal — Dia selalu
menyeret kaki kirinya ketika berjalan.
Kemudian, tangannya, kata Sosrohusodo,
tangan kiri dokter Jerman itu selalu bergetar. Dia juga punya kumis
vertikal mirip Charlie Chaplin, dan kepalanya gundul.
Kondisi ini diyakini mirip dengan gambaran
Hilter di masa tuanya — yang ditemukan di sejumlah buku biografi sang
Fuhrer. Saat bertemu dengannya di tahun 1960, orang yang diduga Hitler
berusia 71 tahun.
Menurut Sosrohusodo, dokter asal Jerman yang
dia temui sangat misterius. Dia tidak punya lisensi untuk jadi dokter,
bahkan dia sama sekali tak punya keahlian tentang kesehatan.
Keyakinan Sosro, bahwa dia bertemu Hitler
dan Eva Braun, membuatnya makin tertarik membaca buku dan artikel soal
Hitler. Kata dia, setiap melihat foto Hitler di masa jayanya, dia makin
yakin bahwa Poch, dokter tua asal Jerman yang dia temui adalah Hitler.
Keyakinannya bertambah saat seorang
keponakannya, pada 1980, memberinya buku biografi Adolf Hitler karangan
Heinz Linge yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Try Budi
Satria.
Dalam halaman 59 artikel itu diceritakan
kondisi fisik Hitler di masa tua. “Sejumlah orang Jerman tahu Hitler
menyeret kakinya saat berjalan, penglihatannya makin kabur, rambutnya
tak lagi tumbuh. Kala perang makin berkecamuk dan Jerman terus dipukul
kalah, Hitler menderita kelainan syaraf.”
Saat membaca buku tersebut, Sosro makin yakin, sebab kondisi fisik yang sama dia temukan pada diri Poch.
Dalam buku tersebut juga diceritakan tangan
kiri Hitler selalu bergetar sejak pertempuran Stalingrad (1942 -1943) —
yang merupakan pukulan dahsyat bagi tentara Jerman.
Sosro mengaku masih ingat beberapa
percakapannya dengan Poch yang diduga adalah Hitler. Poch selalu
memuji-muji Hitler. Dia juga mengatakan tak ada pembunuhan di Auschwitz,
kamp konsentrasi yang diyakini sebagai lokasi pembantaian orang-orang
Yahudi.
“Saat saya bertanya soal kematian Hitler,
dia mengatakan tak tahu. Sebab, saat itu situasi di Berlin dalam keadaan
chaos. Semua orang berusaha menyelamatkan diri masing-masing,” kata
Sosrohusodo, seperti dimuat laman Militariana.
Sosro mengaku pernah memeriksa tangan kiri
Poch yang selalu bergetar. Saat menanyakan kapan gejala ini mulai
terjadi, Poch lalu bertanya pada istrinya yang lalu menjawab, “ini
terjadi ketika Jerman kalah di pertempuran dekat Moskow. Saat itu
Goebbels mengatakan padamu bahwa kau memukuli meja berkali-kali.”
Goebbels yang disebut istri Poch diduga
adalah Joseph Goebbe, menteri propaganda Jerman yang dikenal loyal
dengan Hilter. Kata Sosro, istri Poch, yang diduga Eva Braun, beberapa
kali memanggil suaminya ‘Dolf’, yang diduga kependekan dari Adolf
Hitler.
Usai membaca artikel-artikel tersebut, Sosro
mengaku menghubungi Sumbawa Besar. Dari sana, dia memperoleh informasi
dr Poch meninggal di Surabaya.
Poch meninggal pada 15 Januari 1970 pukul
19.30 di Rumah Sakit Karang Menjangan Surabaya karena serangan jantung,
dalam usia 81 tahun. Dia dimakamkan sehari kemudian di daerah Ngagel.
Sementara istrinya yang asal Jerman pulang
ke tanah airnya, Poch diketahui menikah lagi dengan wanita Sunda asal
Bandung berinisial S. Dia diketahui tinggal di Babakan Ciamis.
Setelah menutup mulut, S akhirnya memberi
semua dokumen milik suaminya pada Sosro. termasuk foto perkawinan, surat
izin mengemudi lengkap dengan sidik jari Poch.
Ada juga buku catatatan berisi nama-nama
orang Jerman yang tinggal di beberapa negara, seperti Argentina, Italia,
Pakistan, Afrika Selatan, dan Tibet. Juga beberapa tulisan tangan steno
dalan bahasa Jerman
Buku catatan Poch berisi dua kode, J.R. KepaD No.35637 dan 35638, kode simbol lelaki dan perempuan.
“Ada kemungkinan buku catatatan dimiliki dua orang, Hitler dan Eva Braun,” kata Sosro.
Ada juga tulisan yang diduga rute pelarian
Hitler — yakni B (Berlin), S (Salzburg), G (Graz), J (Jugoslavia), B
(Belgrade), S (Sarajevo), R (Rome), sebelum dia ke Sumbawa Besar.
Istri kedua Poch, S juga menceritakan suatu
hari dia melihat suaminya mencukur kumis dengan gaya mirip Hitler.
Ketika dia bertanya, suaminya menjawab, “jangan bilang siapa-siapa.”
Sosro mengaku tak ada maksud tersembunyi di
balik pengakuannya. “Saya hanya ingin menunjukan Hitler meninggal di
Indonesia,” kata dia.
Hingga saat ini apakah Hitler tewas di
bunker, di Argentina, Brazil, atau Indonesia, belum bisa dipastikan.
Kisah akhir hayat ’sang Fuhrer’ terus jadi misteri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar